ada alasan kenapa sa paling malas diminta pindah kota. alasannya bukan cuma singular, tapi alasannya jamak dan rasanya kalo diminta pindah ke kota yang lebih kecil, dampak positifnya lebih sedikit daripada apa yang harus sa tinggalkan. bukan pilihan yang mudah memang.. kadang sa merasa se nda belong di sana. there as in the town where my parents live.
#1 sa harus packing, pack semua barang jangan sampe ada ketinggalan, and being me sa pasti cari semua barangku sampe yang jarang sa perhatikan dan diajak pindah. baik kalo barangku sedikit, ini barang-barang segunung, belum buku-buku. ampun mi.
#2 se harus melapor ke kantor lurah atau camat setempat, melaporkan kepindahan, menonaktifkan KTP supaya nda disalahgunakan orang lain, trus nanti kalo sudah sampe di ‘sana’ harus melapor lagi di kantor lurah atau camat setempat untuk bikin KTP baru. repot sekali birokrasinya! (mungkin ada yang bilang, “buat apa repot-repot seperti itu?” se cuma bisa kasih jawaban secara hukum. kalo misalnya kita pindah kota tapi tidak urus surat-surat identitas, domisilinya kita masih tetap di tempat yang lama dan segala kerepotan bisa muncul dari sana. believe me.)
#3 se harus tinggalkan teman-teman dan mulai lagi dari awal dengan orang-orang baru. i’m not good at this. teman-teman sepermainanku waktu sekolah sudah pada pergi entah ke mana.
#4 sa harus tinggalkan pelayanan di gereja, mulai lagi di gereja baru, mulai lagi mencari apa yang tepat untuk se kerjakan di sana. di gereja yang sekarang, sa sudah lebih dari 5 tahun dan sudah serasa di rumah sendiri. dan selama lebih dari 5 tahun itu baru beberapa bulan belakangan ini sa merasa berguna (sebelumnya cuma rame-rame semata, haha) rasanya sa nda sanggup tinggalkan itu.
#5 di sini sa bisa belajar lebih banyak dan bisa mengajarkan banyak hal pada sesama (ngarang mi sede)
tidak banyak orang yang tahu kisah hidupku (hallah, haha) tapi garis besarnya : selama 23 tahun sa hidup, mungkin hanya 5 tahun sa pernah tinggal dengan ortu. ada yang anggap aneh, tapi menurutku itu sudah biasa :P dan tahun-tahun selain 5 tahun itu sa habiskan di makassar yang pengap ini, makanya sa nda heran kalo se betul-betul nda ada niat untuk tinggal di ‘sana’.
hal yang paling tepat itu sebenarnya menolak tawaran untuk pindah. seriously. sa bahkan lagi betul-betul mempertimbangkan untuk lanjut sekolah. rasanya tanggung kalo sa harus pindah dan mengalami segala kerepotan di atas kalau cuma untuk kembali mengalaminya (lagi, kalo sa jadi lanjut pascasarjana).
nda tau mi sa mo bikin apa dan bagaimana merespon. my mom diajakin untuk joinan buka rumah makan bareng my aunt, tanggung jawab dilimpahkan semua ke dia dan dia minta sa bantu-bantu. bantu apa? management-nya! bahh, sa nda tau apa-apa tentang hal-hal seperti itu. maybe i should just say no.
p.s.: pikiran tentang pindah ini betul-betul menyiksa dan se nda tenteram sama sekali. se betul-betul nda bisa membayangkan dan se nda excited at all. malah depressing.
p.p.s.: tolong!